Waspadai Uang Palsu Rp 50 dan 100 Ribu Beredar Jelang Lebaran

Kamuiyakamu.com – Masyarakat sebaiknya waspada, karena biasanya menjelang lebaran akan banyak uang palsu yang beredar. Biasanya yang paling banyak adalah pecahan yang paling besar yaitu Rp 50 dan 100 ribu.

Seperti yang dimuat Merdeka.com bahwa pengamat mata uang Rully Nova menyebut bahwa pemalsu mata uang rupiah paling senang mengedarkan uang dengan nominal yang besar, yaitu Rp 50.000 dan Rp 100.000.

“Yang sering dipalsukan itu yang nilainya besar karena akan jauh lebih hemat. Bahan baku yang sama dan nilai yang besar pasti punya keuntungan lebih besar. Tetapi Rp 50.000 yang paling banyak, kalau Rp 100.000 mungkin ada tetapi jarang digunakan oleh masyarakat,” ujar Rully kepada merdeka.com, Jakarta, Senin (22/6) kemarin.

Beredarnya uang palsu menurut data BI (Bank Indonesia) memang menunjukkan bahwa peredaran uang palsu bersifat musiman, yaitu biasanya menjelang lebaran dan Pilkada.

“Ada musim-musim tertentu itu yang di mana peredaran uang palsu sangat marak, yaitu lebaran dan Pilkada,” jelas Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo.

Bulan lalu misalnya, di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan pemalsu uang berhasil ditangkap polisi padahal sedianya mereka akan mengedarkan Rp 2 miliar saat hari raya Idul Fitri 2015.
waspada uang palsu jelang lebaran

“Kami ditargetkan membuat uang palsu Rp 2 miliar saat Lebaran,” kata AH, pelaku pemalsu uang di Mapolres Jaksel, Jalan Wijaya, Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2015).

Pun demikian halnya dengan Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bekasi Kota yang berhasil mengamankan uang palsu dengan pecahan 100 ribuan senilai Rp 350 juta. Para pelaku mengaku bahwa mereka berencana akan mengedarkan uang palsu tersebut menjelang lebaran 2015.

Mengingat pada tahun-tahun sebelumnya memang kerapkali saat bulan Ramadhan dan lebaran banyak beredar uang palsu terutama di pasar tradisional, maka sebaiknya masyarakat waspada dengan belajar mengenali apa saja ciri uang asli dan palsu. Dengan demikian akan bisa terhindar dari modus kjahatan tersebut.

Menurut Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs, uang palsu biasanya memiliki tekstur yang halus. Berbeda dengan uang asli yang memiliki tekstur lebih kasar. Selain itu ciri uang asli yang lainnya memiliki tanda air dan tanda pengikat sedangkan di uang palsu belum tentu ada.

“Uang asli itu angka-angka nominal itu menonjol,” kata Peter Jacobs, Senin (22/6).

Sebenarnya, uang palsu bisa dikenali dengan mudah dengan bantuan alat khusus. Akan tetapi bagi yang tidak memilikinya, bisa menggunakan cara ‘manual’ untuk mengenali uang palsu. Seperti yang dituturkan Kepala BI Kantor Perwakilan Kaltim Mawardi BH Ritonga di Samarinda, yaitu dengan cara 3D, dilihat, diraba, ditrawang.

Dilihat, uang asli warnanya terang sedangkan jika warnanya buram biasanya adalah uang palsu. Selain itu, pada sebelah pojok kanan bawah terdapat optical variabel ink (OVI) yang mana apabila diperhatikan dari sudut pandang yang berbeda akan akan berubah warna dari warna hijau ke magenda. Sedangkan di sisi belakang uang asli pasti ada benang pengaman yang ditanam dalam uang.

Kedua dengan cara diraba, uang kertas yang asli pada bagian angka dan huruf serta gambar pahlawan akan terasa kasar sedangkan uang palsu biasanya licin.

Cara ketiga dengan ditrawang, apabila uang kertas asli ditrawang pada sebelah kanan terdapat gambar pahlawan, kemudian di bawah nilai nominal juga terdapat lingkaran bertuliskan Bank Indonesia.